♥RiriRainbow♥

1 note

#MyHijabStory #MerdekaDenganHijab Kejar Hidayah dan Merdekakan Diri

hijabographic:

by Azizah Chairiani

Allah yang maha kuasa memfirmankan bahwa “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al Qashash: 56)

SubhanAllah, betapa mahal dan tak ternilainya sebuah hidayah itu. Banyak orang yang menjadikan hal ini sebagai alasan untuk belum berhijab dan menutup auratnya.

“Iya nih aku belum dapat hidayah.”

“Iya nih aku belum siap, masih harus menghijabkan hati dulu.”

“Iya nih nanti saja sehabis nikah baru berhijab.”

“Iya nih masih muda ini, santai, nanti saja kalau sudah tua.”

Apakah kita mampu memprediksi seberapa panjangnya umur kita di dunia? Sungguh kita tak pernah tahu kapan hidayah datang menghampiri kita dan pun kita tak pernah tahu kapan hidayah tersebut Allah cabut dari sisi kita.

Maka jika hari ini Allah curahkan hidayah-Nya kepada kita untuk berhijab, sudah sepantasnya kita bersyukur yang banyak kepada Allah atas kepatuhan kita dan kemerdekaan diri dari ketidakmampuan mencium wanginya surga. Ya ampun, siapa sih yang mau terkekang dan tak mampu mencium wanginya surga? Bagaimana caranya kita mau masuk surga jika mencium wanginya saja kita tak mampu? Astagfirullahaladzim

Setiap orang menjemput hidayah mereka dengan cara masing-masing. Begitu pun dengan aku. Aku Azizah Chairiani, seorang perempuan yang penuh rasa syukur hidup dalam keluarga yang begitu perhatian. Aku memang tak di-jilbab-in dari sejak lahir, namun sejak aku kecil orang tuaku mengajarkanku bahwa menutup aurat adalah kewajiban apa lagi saat kita sudah menstruasi, karena itu adalah tanda kita sudah dewasa dan memiliki tabungan pahala dan dosa sendiri.

Saat aku kelas 4 SD di mana Papa T Bob, Cindy Sanora, Trio Kwek Kwek, dkk. begitu booming, aku masih ingat betapa aku selalu meminta mamaku menghias rambutku dengan pita dan membentuk air mancur setiap mau berangkat sekolah atau sekedar membuat ikatan-ikatan kecil pada rambutku dengan menggunakan karet jepang yang warna-warni itu. Mama selalu sempatkan diri membuatkannya untukku dengan sabar dan tulus ikhlas. Tapi setelah itu mama membuat deal (menurutku memberatkan sekali bagiku). Mama bilang, “Riri, mama hias rambutnya ya ke sekolah. Tapi mau kan Riri setiap pergi sama mama dan papa di hari Minggu pake jilbab?” Argggh, aku selalu bilang gak mau karena panas dan aku masih kecil. Tapi apa daya akhirnya aku terpaksa meng-iya-kan deal tersebut karena aku ga mungkin kan membuat air mancur ala Trio Kwek Kwek dengan tanganku sendiri?

Aku masih ingat saat aku menangis karena aku malu menggunakan jilbab ku setiap pergi dengan mama dan papa. Namun mama selalu tahu cara melunakkan hatiku, beliau belikan aku baju-baju cantik khusus karena badanku memang sangat besar waktu SD dan tak lupa juga jilbab warna-warni yang membuat aku mau-mau tapi malu untuk menggunakannya. Mama memberikan aku ‘tantangan’ dan berkata, “Riri, kamu cantik sekali kalau pakai jilbab, sekarang mama sudah belikan baju-baju ini, nanti setiap pergi sama mama dan papa pakai jilbab dan baju ini ya. Riri suka kan?” Hmm, ya memang harus akui aku suka. Akhirnya aku mulai terbiasa menggunakan jilbabku saat pergi bersama mama dan papa, tapi tidak untuk bermain bersama teman-teman atau saat di sekolah.

Saat aku kelas 5 SD dan mau naik ke kelas 6 SD, seperti biasa menjelang masuk tahun ajaran baru anak-anak seumuranku pasti selalu antusias untuk membeli seragam baru dan semua yang baru-baru. Hari itu aku pergi ke pasar untuk membeli seragam baru. Aku yang berbadan besar ini kesulitan mencari kemeja dan rok pendek yang sesuai. Akhirnya aku membeli rok panjang yang rencananya akan di pendekkan di tukang jahit.

Saat perjalanan pulang, inilah saat aku memperoleh hidayahku. Aku bilang, “Ma, Riri mau pakai jilbab terus aja ya.” Mama tekaget, “Riri beneran mau pake jilbab?”, tanya mama. “Iya ma, Riri mau pakai jilbab aja setiap hari keluar rumah termasuk saat ke sekolah. Kan dalam Al-Qur’an Allah mewajibkan itu. Teman-teman Riri juga sudah mulai banyak yang mens, mungkin Riri sebentar lagi punya tabungan pahala dan dosa sendiri”, jawabku. “Riri beneran mau? Kan di sekolah belum ada yang pakai jilbab terus. Riri beneran mau dan berani?”, tanya mama memastikan. Aku memang sekolah di SD Islam Al-Azhar, namun saat itu di sekolah belum mewajibkan anak SD berjilbab dan hanya menggunakan baju muslim setiap Jum’at saja. Di angkatanku dan senior-senior di atasku belum ada satupun yang menggunakan jilbab setiap hari sekolah. Entah mengapa keputusanku ini sudah bulat, layaknya pahlawan yang tak gentar berperang diantara perbedaan yang ada, aku seakan diberikan keberanian untuk menjadi yang pertama berjilbab di sekolahku. Hal tersebut membuat mama menangis haru. Akhirnya kami kembali ke pasar dan menukarkan belanjaan seragam yang lebih syari’.

Inilah caraku berjuang memerdekakan diri dari keindahan dunia yang fana. Sejak saat itu entah mengapa aku terpacu untuk berkarya dan terus berjuang. Aku tidak malu menggunakan jilbabku, semua guru dan teman-teman menghargaiku. Inilah kemudahan dan berkah dari Allah, dahulu aku jarang mendapatkan ranking namun di akhir masa SD aku meraih ranking 2. Aku juga memenangkan beberapa perlombaan puisi dan pidato, sering menjadi komandan upacara atau pengibar bendera dalam paskibra SD, dan aku tetap dapat menyalurkan hobiku mengikuti ekskul basket di sekolah meskipun aku berbeda.

SubhanAllah, inilah perjuangan yang melejit melesat, sejak saat aku berjilbab dan memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi aku terus aktif berorganisasi, masyaAllah, aku bahkan berturut-turut menjadi ketua umum OSIS perempuan pertama di SMP dan SMA. Nikmat Allah yang manakah yang hendak kita dustakan, kawan?

Percayalah, berjilbab itu takkan membuat kita terjajah dalam kurungan kain di badan dan kepala kita. Menutup aurat itu takkan membuat kita hanya menjadi penonton pertandingan basket atau hanya sekedar menjadi murid yang belajar di kelas saja. Setiap kita adalah pemimpin dan kita mampu untuk menjadi seseorang yang spesial dengan tetap terus menjaga hijab kita, harga diri kita.

Bagiku kemerdekaan adalah sebuah jerih payah yang panjang demi sebuah perubahan. Kemerdekaan ini membutuhkan keberanian dan keyakinan bahwa kita muslimah mampu bebas berkarya apa lagi saat berjuang dalam kebenaran di jalan Allah. Dan keberhasilan dari sebuah perjuangan adalah saat menjadi bagian dari keberhasilan orang lain. Begitu pula yang aku rasakan saat aku melihat junior-juniorku semakin banyak yang berjilbab dan para muslimah tak malu lagi unjuk gigi aktif berorganisasi.

image

  • Nama      : Azizah Chairiani
  • TTL         : Jakarta, 15 Mei 1991
  • Aktivitas  : Ko Assisten di RS dan Aktif di Organisasi Pemuda Muslim

8 notes

wavens:

I stand upon the cliff looking across the sea
Nothing but pureness stands before my view
Look onwards, pass the mountain, pass the sea and look there
Kaba, so pure so holy
We are but fortnate to make Hajj to it
For we are unworthy 
But Fear not we have been saved
For there is only One that save us
Our lord our God
Ar-Rahman he is always there
Seek him
Repent to him
You will be protected
la illah ila allah muhammad rasul allah
Keep that in your heart
Its your savior…

wavens:

I stand upon the cliff looking across the sea

Nothing but pureness stands before my view

Look onwards, pass the mountain, pass the sea and look there

Kaba, so pure so holy

We are but fortnate to make Hajj to it

For we are unworthy 

But Fear not we have been saved

For there is only One that save us

Our lord our God

Ar-Rahman he is always there

Seek him

Repent to him

You will be protected

la illah ila allah muhammad rasul allah

Keep that in your heart

Its your savior…